Rimeligste Forbrukslån | Langattomat Kuulokkeet | Nytt Kredittkort | Strømselskap | Beste Hyttealarm | Billigste Forsikring | Billigste Mobilabonnement | Verditakst
Kisah I Songgaling Jadi Pakelem di Sungai Ayung

Pura Ulun Suwi Bugbug, tak sukar menemukannya. Bila Anda pernah melintas di kawasan bendungan Ongan, Denpasar Timur, pura ini dapat nampak karena berada di atas sebelah timur bendungan, bentangan Sungai Ayung. Ada yang istimewa dengan kawasan suci ini?

 

Pura Ulun Suwi Bugbug dicermati berasal dari namanya kemungkinan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} besar orang dapat dapat menebak fungsi pura ini. “Secara lazim pura ini merupakan pura pangulun sawah yang diempon oleh 11 pekaseh. Sedangkan kata Bugbug merupakan nama desa di tempat Gunung Batur, Bangli, yang terlalu erat kaitannya dengan pura ini,” ujar Pemangku Pura, Jro Mangku I Wayan Sarga kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

 

Sebelum pura ini berdiri, lanjutnya, tempat tepian Sungai Ayung ini adalah sebuah alas atau hutan lebat. Anehnya, tiap-tiap malam hari, hutan ini senantiasa bersinar dan mengeluarkan cahaya.

 

Suatu hari, aliran Sungai Ayung tidak dapat mengairi sawah petani. Hal ini jadi  persoalan yang cukup besar kala itu. Akibat kejadian itu, Raja Badung jalankan keinginan di Pura Ulun Danu Batur. Setelah selesai, beliau kembali ke Badung, tapi tidak satu pun tersedia tanda-tanda air dapat naik dan mengairi sawah.

 

Hal inilah yang sebabkan Raja Badung jalankan rapat dengan parekan puri manfaat melacak solusi atas problem pengairan ini.

 

Rapat dapat di awali disaat semua yang diundang hadir. Ketika Sang Raja Badung singgah hendak memulai rapat, ternyata tersedia satu orang parekan puri yang belum hadir. Belakangan diketahui karena yang terkait  mengalami persoalan kala menyeberangi Sungai Ayung. Air sungai kala itu tinggi seleher orang dewasa. Namun, karena loyalitasnya kepada Sang Raja, parekan berikut ngotot menyeberangi sungai  perlahan. Pada kala beranjak menyeberangi sungai, ia melihat sebuah sok kasi (keben) yang hanyut berasal dari arah utara dan hendak menghampirinya. Namun benda berikut tidak diambil, bahkan dibuang ke arah selatan.

 

Beberapa kala sehabis melangkahkan kakinya , ternyata benda yang serupa singgah kembali. Tak buang kesempatan, karena menyeberangi sungai cukup alot, benda yang menghampirinya  dibuang kembali. Ketika hendak naik ke atas, ia menjumpai keben itu kembali di dekatnya.  Karena ini yang ketiga kalinya, maka diambilah keben berikut dan dibawa menuju kerajaan.

 

Sesampainya di kerajaan, rapat segera dimulai. Namun, sebelumnya didahului dengan membuka keben yang dibawa oleh parekan Raja yang tak diketahui namanya sampai kini. Namun konon ia berasal berasal dari Banjar Abiankapas Tengah. Setelah dibuka, terkandung sebuah surat yang memandatkan kepada keluarga parekan yang berasal berasal dari Banjar Abiankapas Tengah itu, untuk menyungsung bilamana di tepian Sungai Ayung wilayah Kaja Kangin Badung dibangun sebuah Parahyangan. Ia dan keluarganyalah yang boleh mangempon pura tersebut.

Baca Juga :   Cara Aman Mengatasi Flu Saat Hamil

 

Akhirnya, mendengar mandat tersebut, I Songgaling yang terhitung merupakan parekan (abdi) raja mengambil keputusan untuk turut ngayah (mengabdi tanpa pamrih) jadi dasar bendungan. Tepat pada hari purnama Kapat, upacara besar dilakukan, dan I Songgaling terjun  ke sungai bersamaan dengan ditancapkannya batang pohon dap-dap. Seketika I Songgaling menghilang. Dan, air yang tersedia di sungai menjadi naik dan mengairi sawah petani. Hingga kini Bendungan dan banjar yang tersedia di tempat pura berikut dinamakan Wongan  atau Ongan yang berarti manusia.

 

Untuk jadi pengingat bahwa dasar berasal dari bendungan berikut adalah manusia. I Songgaling kini distanakan di palinggih yang berada di sebelah utara Pura Bugbug. Selain I Songgaling, terkandung beberapa pengayat Ida Bhatara yang terkandung di Pura Ulun Suwi Bugbug, yakni, Ratu Ngurah Pudak Singkal, Ratu Gede Pasung Grigis, Ratu Ayu Bias Membah, dan Ratu Gede Batur. Ratu Gede Batur inilah yang dipercayai menambahkan anugerah air atau kesuburan kepada umat di Bali. “Sehingga, untuk mengingat Ratu Gede Batur, pura ini dinamakan Pura Ulun Suwi Bugbug. Kata Bugbug inilah yang mengingatkan kami dengan Ratu Gede Batur sehingga tidak dilupakan,” sadar pria 62 th. ini.

 

Lebih lanjut dijelaskannya, Pura Ulun Suwi Bugbug dipercayai sebagai ujung berasal dari aliran air suci berasal dari Gunung Batur. Hulunya berada di Gunung Batur, yang puranya adalah Ulun Danu Batur, sedang hilirnya adalah di Pura Ulun Suwi Bugbug. Pura ini dipercayai sebagai stananya para Wong Samar. Menurut cerita yang berkembang, tersedia tiga banjar Wong Samar yang mendiami tempat ini. “hal inilah yang sebabkan pura ini jadi angker,” tutup Mangku Sarga.

2Shares

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *